
anindya arkhansa
sebuah cerita, dari kehidupan seorang pria.
Tentang

| Nama Panjang | Anindya Arkhansa |
| Nama Panggilan | Anin, Khansa |
| Tempat / Tanggal Lahir | Jakarta, 4 April 1996 |
| Tinggi | 182cm / 6'0 |
| Berat Badan | 80kg |
| Pendidikan | Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) |
| Pekerjaan | Analis Intelijen |
| Afiliasi | Badan Intelijen Negara (BIN) |
| Face Claim | Tada Mitsuyoshi (Tada-kun wa Koi wo Shinai) |
Penampilan

Khansa merupakan seorang pemuda berpostur tinggi, fitur wajah yang lancip, berkulit cerah dan berambut gelap. Ia merupakan seseorang yang cukup apatis dengan penampilannya, namun tetap menjaganya agar setidaknya cukup sopan untuk dilihat. Khansa jarang merapikan rambutnya, sehingga rambutnya selalu terlihat nampak berantakan.
Khansa biasanya selalu dapat ditemukan dengan sebuah celana jeans kasual yang dipasangkan dengan sebuah kaos dan kemeja ataupun jaket yang tak dikancingi.
Sifat
Seorang introvert, Khansa secara umumnya lebih memilih untuk berdiam dan mengamat. Namun, ia sendiri bukanlah orang yang sangat tertutup dan canggung untuk diajak berbicara. Sebaliknya, jika berbicara dengan orang lain, Khansa dapat cukup terbuka dan selalu bertutur sopan dengan lawan bicaranya.
Memiliki selera humor yang cukup datar, Khansa lebih sering terhibur dengan humor datar ataupun sarkas daripada tipe humor lelucon biasa.
Khansa, mengejutkannya, cukup mudah untuk terpancing dan dibuat kesal. Namun, ia selalu menyalurlan kekesalannya dengan pasif agresif maupun ungkapan yang penuh dengan sarkasme.
Tinggal di luar negeri selama majoritas hidupnya, bahasa Indonesia Khansa dapat dibilang cukup kaku dan sedikit formal. Ini membuatnya terlihat canggung ataupun kaku di depan orang baru.
Khansa, dapat dibilang, merupakan seseorang yang empathetic dan emosional, cukup kontras dengan penampilannya terlihat cukup apatis. Khansa mudah sekali merasa tidak enakan dan selalu terdorong untuk membantu orang orang.
Personality Type: INFP-T.
Hobi dan kesukaan
Khansa memiliki hobi dan kesukaan yang cukup beragam. Beberapa hobinya adalah menjahit, memasak, fotografi, dan membaca buku. Di sisi lain, beberapa hal yang ia suka adalah otomotif, sepakbola, dan bola basket.
Khansa menyukai makanan manisan. Bahkan, dapat dibilang kalau ia terobsesi dengan makanan manisan. Di lain sisi, Khansa sangat tidak menyukai makanan pedas. Makanan kesukaan Khansa adalah cheesecake.
Selera musik Khansa dapat dibilang cukup random. Namun, biasanya ia mendengarkan genre heavy metal dan heavy rock. Khansa tidak terlalu menyukai genre pop dan country.
Cerita Singkat
Anindya Arkhansa, atau yang biasanya dipanggil Khansa, merupakan seorang pemuda berumur 24 tahun yang sekarang sedang bekerja sebagai Analis Intelijen di Badan Intelijen Negara. Sebagai seorang analis, Khansa biasanya hanya menghabiskan waktunya membuat sebuah laporan analisis dari berbagai macam sumber informasi untuk nanti diberikan kepada Presiden. Perbedaan mengenai pekerjaan aslinya dan bagaimana persepsi masyarakat kadang membuat Khansa sedikit tertawa.
Lahir di Jakarta pada 4 April 1996, Khansa menghabiskan hampir majoritas masa kecilnya di luar negeri karena pekerjaan ayahnya sebagai seorang Diplomat. Ia hampir sama sekali tidak pernah beranjak di Indonesia, sampai ia berumur 15 tahun ketika ayahnya dipanggil kembali ke Indonesia. Karena latar belakangnya ini, Khansa memiliki bahasa Indonesia yang terbata-bata, kaku, dan cukup formal. Ini membuatnya sedikit merasa kesulitan pada saat ia menempuh pendidikan SMA.
Ketertarikannya pada dunia intelijen pada saat SMA dan juga dorongan dari orangtuanya membuat Khansa mendaftar di STIN, atau Sekolah Tinggi Intelijen Negara, setelah ia lulus SMA.
Lulus dari STIN dengan gelar lulusan terbaik, tidak butuh waktu lama untuk Khansa langsung saja di tempatkan di BIN, atau Badan Intelijen Negara. Sekarang, ia merupakan seorang Analis Intelijen, di bawah Deputi Bidang Intelijen Luar Negeri BIN.
Kehidupan awal / masa kecil
Anindya Arkhansa lahir di Jakarta pada hari Kamis, 4 April tahun 1996. Ia lahir dari ayah seorang diplomat, dan ibu yang merupakan seorang dosen di sebuah universitas di London.
Sebuah kisah unik yang terjadi, ketika ia masih berada dalam kandungan sang ibu, para dokter yang mengeceknya mengira bahwa ia adalah seorang perempuan. Karena asumsi tersebut, kedua orangtuanya memberikannya nama yang cukup feminin, dan mempersiapkan semuanya seolah sudah pasti kalau ia adalah seorang perempuan. Mereka bahkan sudah menyiapkan sebuah nama untuknya, Anindya Kirana Arkhansa.
Ketika ia lihar, kedua orangtuanya cukup terkejut ketika ia ternyata adalah seorang bayi laki-laki. Daripada repot memikirkan sebuah nama baru pada saat itu juga, kedua orangtuanya hanya menghapus Kirana dari namanya dan menamakannya, Anindya Arkhansa.
Walaupun terlahir di Jakarta, karena sang ayah yang ditugaskan di Kedutaan Besar Indonesia di Inggris, Arkhansa dan keluargapun pindah, setelah hanya satu tahun di Indonesia setelah Arkhansa lahir.
Arkhansa menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya berpindah-pindah, karena sifat dari tugas sang ayah. Ia menghabiskan 3 tahun di Inggris, sebelum akhirnya pindah ke Washington, Amerika Serikat. Ketika Arkhansa berumur 7 tahun, merekapun pindah lagi ke Berlin, Jerman, menghabiskan 5 tahun disana sebelum kemudian pindah lagi ke Montreal, Canada, menetap disana selama 2 tahun.
Karena keluarganya yang selalu berpindahan, sejak kecil, Arkhansa menjadi seseorang yang sedikit tertutup. Arkhansa hanya cukup dekat dengan keluarganya, enggan untuk lebih membuka dirinya kepada orang lain ataupun teman sekolahnya, karena tidak ingin terlalu terikat dengan mereka sebelum ia akhirnya akan pindah lagi. Ditambah, sebagai anak tunggal dari kedua orang tua yang cukup sibuk, Arkhansa lebih sering sibuk dengan dirinya sendiri, dan memilih untuk melakukan banyak hal agar tidak bosan di rumahnya sendirian.
Arkhansa menemukan kesenangan dalam membaca buku sebagai temannya ketika ia merasa kesepian. Berbagai macam cerita ia lahap, dari dongeng, romansa, komik, ataupun novel.
SMA

Ketika ia berumur 15 tahun, keluarganya kembali pindah ke Jakarta, Indonesia. Ini pertama kalinya Arkhansa kembali ke negeri kelahirannya. Menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Eropa ataupun Amerika Utara, Arkhansa lebih fasih dalam Bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis ketimbang Bahasa Indonesia. Walaupun ketika di rumah, orangtuanya selalu memakai bahasa Indonesia guna mengajarkannya bahasa ibunya, Arkhansa lebih terbiasa dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-harinya.
Ini menjadi sebuah permasalahan di hari pertamanya menempuh pendidikan jenjang SMA di salah satu SMA negeri di Indonesia. Aksennya yang cukup aneh dan bahasa Indonesianya yang kaku membuat Arkhansa sering menjadi bahan ejekan dari teman-temannya. Ditambah lagi, namanya yang feminin untuk seorang lelaki, tidak cukup lama untuk Arkhansa menjadi bahan ejekan utama di kelasnya.
“Orang Indonesia kok gabisa bahasa Indonesia sih?”
Merupakan cemoohan yang sering ia dengarkan pada masa SMA-nya. Cemoohan ini membuat Arkhansa semakin pendiam, tidak memilih untuk berbicara agar tidak diejek lagi.
Walaupun menjadi bahan ejekan, itu tidak menghalangi Arkhansa untuk tetap berprestasi selama ia di SMA. Ia selalu konsisten berada di rangking 3 teratas selama di sekolahnya. Arkhansa juga pernah memenangkan lomba membuat essay tingkat nasional.
Prestasi Arkhansa dalam bidang akademik menuai kecemburuan dari teman teman sekelasnya yang mengejeknya. Tidak jarang untuk Arkhansa terlibat dalam perkelahian dengan beberapa murid lainnya ketika Arkhansa sudah hilang kesabaran. Para murid yang lainpun juga jadi lebih suka untuk memancing Arkhansa guna membuat Arkhansa dihukum.
Para guru, namun, selalu memihak Arkhansa karena prestasi akademiknya. Karena selalu dibela guru juga, Arkhansa dijuluki sebagai 'teacher's pet', membuatnya semakin dijauhi oleh murid murid lainnya.
Walupun tidak semuanya menganggap buruk kepada Arkhansa, murid murid menjadi tertekan untuk menjauhi Arkhansa, karena anak anak populer dan anak anak lainnya menjauhi dan memusuhi Arkhansa.
Walaupun lulus dengan banyak prestasi dan nilai yang bagus, pengalaman kelamnya selama SMA akan selalu teringat olehnya.
(Under construction)










